Rabu, 02 Februari 2011

Sepi


Sepi
Sedahsyat halilintar dia itu pergi
Secepat cahaya sepi itu berseri
Sepekat kelam hati itu hitam
Dalam gerhana sepi itu nyata
Berlari kehutan lalu tersesatlah
Terkubur dalam jurang amarah
Disulamnya jaring setan
Disebarkannya benih luka
Disiramkannya racun jingga
Tampak nyata neraka dari seorang hawa
Matanya tergenang
Senyumnya beku
Tak tega ku melihatnya begitu pilu
Karna siapa dia jadi begitu
Semau karna sabda pandita ratu
Yang menghentikan waktu

Rasa

Ada yg mengganjal
Terekam dan jauh tertinggal
Sudah lama rasa ini hilang
Jauh dan melayang terbang
Seperti hujan turun dilaut
Hilang tanpa sisa
Tanpa ada tawar yg tertinggal
Kini tiba-tiba rasa itu kembali
Seperti halnya mimpi 
Tanpa diminta tanpa direncana datang sesuka hati 
Ketika semua sadar terlelap
Ketika semua cape coba dilenyap..

Minggu, 23 Januari 2011

Selamat Tinggal

Selamat Tinggal
Menjalar bunga hati pohon sepi
Mekar bunga abadi
Tumbuh bersama kelam mengkabut sepi
Memancar hitam mempekat langit
Tapi malah semakin bersemi
Hitam pekat hatipun menjadi mayat
Terselubung akar tetindih jalar
Terbelenggu samar terselubung mekar
Kasih putih cahaya biru
Hanya bagian masalalu
Redup semu tak merayu
Jadi selamat tinggal masalalu

KECEWA

Kecewa
Lukaku semakin mengangah
Hatiku semakin lelah
Kecewa semakin parah
Kini hati tak terkontrol dan menjadi amarah
Marah, marah dan marah
Kini marah mengalahkan logika
Dendamku membatu
Karna kelakuan ratu yang angkuh
Mengukirkan prasasti benci
Membangun istana emosi
Itulah keadaan hati kini
Sekali lagi “Dasar Ratu Angkuh!!!”
Jika tak suka mengapa kau merangkulku penuh??

CACI


Caci
Sakit hati karna caci
Kucoba kirim puisi
Tapi malah aku dimaki
Kalau tak suka janganlah mencaci
Karna puisi adalah hati
Kau hina puisi kau lukai hati ini
Aku tak minta dihargai
Yang aku minta hanya jangan kau lukai
Caci sungguh setajam belati
Sesakit sepi sebusuk tai
Bekasnya pun abadi